Jumat, 10 Februari 2017

Cerpen Wagu




HANYA LIMA DETIK

SMA 1 Garuda, itulah sekolahku. Terletak dikabupaten Pekalongan yang terkenal dengan batiknya. Oh iya perkenalkan namaku Fatimah Azahra biasa dipanggil Imah. Aku masih duduk dibangku kelas dua. Hidup dikeluarga biasa-biasa saja membuatku harus selalu semangat dalam belajar.
Letak rumahku dari sekolah tak jauh hanya berjarak 1,5 km saja. Seperti biasa aku berangkat sekolah pukul setengah tujuh dengan berjalan kaki menyusuri pinggir jalan yang rindang. Suasana pagi saat berangkat pergi sekolah selalu kunanti-nanti, karena udara yang masih segar, suasana damai, tenang, adanya kicauan burung di pepohonan membuatku merasa bebas dari tugas-tugas sekolah yang kadang membuat stress.
Hari ini adalah hari Rabu dimana ada jadwal kelas ekstrakulikuler melukis. Aku mengikuti ekstra melukis sejak kelas satu yang waktu itu hanya diikuti oleh delapan anak dan sekarang menjadi dua puluh anak.
Bel pulang sekolah berdering, waktunya untuk mengikuti ekstra melukis. Aku bersama Fita teman sebangku bergegas keluar dan meuju kekelas melukis agar tidak terlambat seperti minggu kemarin.
Setelah sampai ditempat, aku langsung menyiapkan alat-alat melukis. Sembari membuka tas dan mengeluarkannya.
“pensil, penghapus, penggaris, kuas, cat air??? Hee!!! Cat airku dimana ya?” ucapku
“kenapa, ada apa tho mah?”tanya Fita
“cat airku tidak ada didalam tas, fit?” jawabku
“coba cari lagi, kali aja nyelip?” kata Fita
“sudah aku cari dimana-mana, tapi tidak ada.” Jawabku
“ mungkin ketinggalan dikelas XI IPA3 kali, kamu kan pelupa.” Kata Fita
“ oh iya, bener juga katamu. Ya sudah aku balik ke kelas dulu mau ngambil cat air. Kalau Pak Iwan sudah datang bilang sama pak iwan kalau aku lagi ke toilet oke fit?” kata ku
“ya. Sip dah. Tapi jangan lama-lama lho?” kata Fita
“beres.” Jawabku sambil lari menuju ruang kelas XI IPA 3.
Sampai dikelas aku langsung melihat laci tempat duduk ku tadi dan ternyata benar cat ku tertinggal. Aku langsung mengambil dan kembali lagi ke kelas melukis
Lagi-lagi aku berlari melewati lorong kelas yang sudah sepi. Karena aku berlari tanpa melihat kedepan, sampai akhirnya menabrak anak laki-laki dari arah berlawanan. Kerasnya tabrakan, akupun terjatuh ke lantai begitu juga anak laki-laki itu. Aku dan anak itu kaget dan saling menatap selama lima detik. Pikirku dalam hati melihat anak itu adalah gila ni anak cakep banget, manis, keren lagi.”.
Setelah lima detik, aku tersadar dan segera mengalihkan pandangan dari anak itu. Dengan perasaaan yang tidak karuan senangnya aku mengambil cat air yang berserakan dilantai. Anak itu membantu mengambil beberapa cat air yang berserakan sambil berkata “ ini cat nya, lain kali hati-hati ya.”
“emh, iya. Maaf sudah nabrak kamu sampai jatuh. Ada yang sakit nggak?” kataku salah tingkah.
“iya, gak ada yag sakit kog. Oh iya kenalin aku Dito murid baru kelas dua, kamu siapa?” tanya Dito sambil mengulurkan tangannya kepada ku.
“ ah, aku? Aku Fatimah, panggil aja Imah” jawabku deg-degan.
“salam kenal ya?” kata Dito sambil tersenyum manis.
“iya iya , kalu begitu aku pergi dulu, maaf.” Kata ku
“ sampai ketemu lagi” kata Dito.
Dan aku menjawabnya dengan senyuman saja.
Aku berjalan kembali menuju kelas dengan wajah berseri-seri, perasaan sangat senang karena baru  nabrak pangeran nyasar.
       Sejak kejadian itu, aku menyukai Dito. Setiap bertemu dengannya hatiku deg-degan pengen pingsan, salah tingkah pula. Satu hari tidak melihatnya, hati terasa kosong tanpa rasa apapun.
       Lima minggu sudah aku mengamati Dito, tapi sepertinya dia tidak tahu kalau aku suka sama dia. Suatu saat aku sedang berada di kelas melukis, dari balik jendela aku melihat Dito sedang duduk sendiri dibawah pohon beringin sambil mendengarkan musik.
       Tidak ingin melewatkan kesempatan momen pemandangan indah, aku langsung melukis dirinya yang sedang duduk sendirian itu. beberapa menit berlalu, Dito beranjak dari tempat duduknya. Untung saja, aku telah selesai melukisnya. Kemudian lukisan itu aku simpan didalam loker. Kali aja bisa jadi kenang-kenangan.
       Keesokan harinya, setelah pulang sekolah. Saat aku sedang membuka loker, tiba-tiba dari belakang Dito mengagetkan ku dan memanggil “ hey imah!!!’.
“Astaghfirullah, kamu tu ngagetin aja. Ada apa si?” jawabku sambil menoleh.
“nggak ada apa-apa si” kata Dito.
Tanpa sengaja Dito melihat lukisan dirinya yang ada dalam loker ku. Langsung deh dia bertanya “ eits, apa itu? gambar siapa? kayak kenal aku”.
“emh, mana? Gak ada. Bukan siapa-siapa.” jawabku setengah gagap
“ itu,lihat ya?” kata Dito dengan cepat dia mengambil lukisan itu. sebelum aku menutup loker. Meihat lukisan dirinya, Dito hanya tersenyum dan menatapku. Sedangkan aku tersipu malu karena ketahuan.
“besok istirahat bareng ya imah?” kata Dito.
“owh, iya” jawabku kaget.
Lalu dia pergi meninggalkan ku yang masih deg-degan setengah mati.
       Besoknya, bel berbunyi waktunya istirahat. Aku keluar kelas dan ternyata Dito sudah menunggu diluar. Aku dan dia pergi berjalan ke taman, sambil berkeliling aku ngobrol dengannya. Sampai di tengah taman aku dan dia duduk dibawah rindangnya pohon. Seketika suasana berubah menjadi canggung, tiba-tiba Dito berkata kepada ku dengan ekspresi yang sangat serius hal itu sangat membuatku bingung dan takut.
“ Imah, aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku??” kata Dito hanya dalam waktu lima detik saja.
“hee???, kamu bercanda ya?” jawabku dengan sangat kaget.
“aku serius” kata Dito.
“ah, emh, sebenarnya si aku juga suka sama kamu “jawabku.
“beneran?” kata Dito sangat bahagia
Aku hanya mengangguk.
       Kemudian Aku dan Dito berpacaran. Setiap hari bareng, istirahat bareng, pulang bareng, belajar kelompok bareng. Ya aku sangat senang karena akhirnya aku bisa bersama dengan dia.
       Tapi hubungan ku dengan Dito tidak bertahan lama. Tepatnya lima bulan lima hari lebih lima jam llima menit Dito mengajakku berjalan-jalan ketengah alun-alun kota menikmati suasana sore. Setelah beberapa menit berlalu, Dito mengubah ekspresinya menjadi sangat serius dan mengatakan sesuatu yang aku takuti.
“Imah mulai sekarang kita temenan aja.”kata Dito lagi-lagi hanya dalam waktu lima detik.
“ apa? Kenapa?” jawabku.
“ iya, aku akan pergi. Aku harus ikut kedua orang tuaku pindah ke Belanda.” Kata Dito dengan mata yang berkaca-kaca.
“kapan kamu berangkat kesana?” tanyaku sambil menahan air mata dan mencoba untuk tegar.
“nanti pukul tujuh malam. Aku berharap semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku. Tetap semangat. Ingat kalau jalan hati-hati ya?” kata Dito sambil mengusap kepala ku dan perlahan dia berjalan meninggalkan ku sendiri ditempat.
Seketika suasana terasa sangat sepi, sunyi, hening, angin seperti berhenti berhembus. Aku tak tahan menahan air mata yang sudah berkaca-kaca, dan akupun menangis seorang diri. Dan akhirnya aku menjadi gadis SMA seperti dulu, yang tidak punya pacar atau gebetan. Tapi ada satu hal yang tidak akan ku lupakan yaitu kenangan dimana cinta datang kepadaku hanya dalam waktu lima detik dan juga berakhir dalam lima detik.