HANYA LIMA
DETIK
SMA 1 Garuda, itulah
sekolahku. Terletak dikabupaten Pekalongan yang terkenal dengan batiknya. Oh
iya perkenalkan namaku Fatimah Azahra biasa dipanggil Imah. Aku masih duduk
dibangku kelas dua. Hidup dikeluarga biasa-biasa saja membuatku harus selalu semangat
dalam belajar.
Letak rumahku dari sekolah tak
jauh hanya berjarak 1,5 km saja. Seperti biasa aku berangkat sekolah pukul
setengah tujuh dengan berjalan kaki menyusuri pinggir jalan yang rindang.
Suasana pagi saat berangkat pergi sekolah selalu kunanti-nanti, karena udara
yang masih segar, suasana damai, tenang, adanya kicauan burung di pepohonan
membuatku merasa bebas dari tugas-tugas sekolah yang kadang membuat stress.
Hari ini adalah hari Rabu dimana
ada jadwal kelas ekstrakulikuler melukis. Aku mengikuti ekstra melukis sejak
kelas satu yang waktu itu hanya diikuti oleh delapan anak dan sekarang menjadi
dua puluh anak.
Bel pulang sekolah berdering,
waktunya untuk mengikuti ekstra melukis. Aku bersama Fita teman sebangku
bergegas keluar dan meuju kekelas melukis agar tidak terlambat seperti minggu
kemarin.
Setelah sampai ditempat, aku langsung menyiapkan
alat-alat melukis. Sembari membuka tas dan mengeluarkannya.
“pensil, penghapus, penggaris, kuas, cat air???
Hee!!! Cat airku dimana ya?” ucapku
“kenapa, ada apa tho mah?”tanya Fita
“cat airku tidak ada didalam tas, fit?” jawabku
“coba cari lagi, kali aja nyelip?” kata Fita
“sudah aku cari dimana-mana, tapi tidak ada.” Jawabku
“ mungkin ketinggalan dikelas XI IPA3 kali, kamu kan
pelupa.” Kata Fita
“ oh iya, bener juga katamu. Ya sudah aku balik ke
kelas dulu mau ngambil cat air. Kalau Pak Iwan sudah datang bilang sama pak
iwan kalau aku lagi ke toilet oke fit?” kata ku
“ya. Sip dah. Tapi jangan lama-lama lho?” kata Fita
“beres.” Jawabku sambil lari menuju ruang kelas XI
IPA 3.
Sampai dikelas aku langsung melihat laci tempat duduk
ku tadi dan ternyata benar cat ku tertinggal. Aku langsung mengambil dan
kembali lagi ke kelas melukis
Lagi-lagi aku berlari melewati
lorong kelas yang sudah sepi. Karena aku berlari tanpa melihat kedepan, sampai
akhirnya menabrak anak laki-laki dari arah berlawanan. Kerasnya tabrakan,
akupun terjatuh ke lantai begitu juga anak laki-laki itu. Aku dan anak itu
kaget dan saling menatap selama lima detik. Pikirku dalam hati melihat anak itu
adalah gila ni anak cakep banget, manis, keren lagi.”.
Setelah lima detik, aku tersadar
dan segera mengalihkan pandangan dari anak itu. Dengan perasaaan yang tidak
karuan senangnya aku mengambil cat air yang berserakan dilantai. Anak itu membantu
mengambil beberapa cat air yang berserakan sambil berkata “ ini cat nya, lain
kali hati-hati ya.”
“emh, iya. Maaf sudah nabrak kamu sampai jatuh. Ada
yang sakit nggak?” kataku salah tingkah.
“iya, gak ada yag sakit kog. Oh iya kenalin aku Dito murid baru kelas dua, kamu siapa?” tanya Dito sambil mengulurkan
tangannya kepada ku.
“ ah, aku? Aku Fatimah, panggil aja Imah” jawabku
deg-degan.
“salam kenal ya?” kata Dito sambil tersenyum manis.
“iya iya , kalu begitu aku pergi dulu, maaf.” Kata ku
“ sampai ketemu lagi” kata Dito.
Dan aku menjawabnya dengan senyuman saja.
Aku berjalan kembali menuju kelas dengan wajah
berseri-seri, perasaan sangat senang karena baru nabrak pangeran nyasar.
Sejak
kejadian itu, aku menyukai Dito. Setiap bertemu dengannya hatiku deg-degan
pengen pingsan, salah tingkah pula. Satu hari tidak melihatnya, hati terasa
kosong tanpa rasa apapun.
Lima
minggu sudah aku mengamati Dito, tapi sepertinya dia tidak tahu kalau aku
suka sama dia. Suatu saat aku sedang berada di kelas melukis, dari balik
jendela aku melihat Dito sedang duduk sendiri dibawah pohon beringin sambil
mendengarkan musik.
Tidak
ingin melewatkan kesempatan momen pemandangan indah, aku langsung melukis
dirinya yang sedang duduk sendirian itu. beberapa menit berlalu, Dito
beranjak dari tempat duduknya. Untung saja, aku telah selesai melukisnya.
Kemudian lukisan itu aku simpan didalam loker. Kali aja bisa jadi
kenang-kenangan.
Keesokan
harinya, setelah pulang sekolah. Saat aku sedang membuka loker, tiba-tiba dari
belakang Dito mengagetkan ku dan memanggil “ hey imah!!!’.
“Astaghfirullah, kamu tu ngagetin aja. Ada apa si?”
jawabku sambil menoleh.
“nggak ada apa-apa si” kata Dito.
Tanpa sengaja Dito melihat lukisan dirinya yang ada
dalam loker ku. Langsung deh dia bertanya “ eits, apa itu? gambar siapa? kayak
kenal aku”.
“emh, mana? Gak ada. Bukan siapa-siapa.” jawabku
setengah gagap
“ itu,lihat ya?” kata Dito dengan cepat dia
mengambil lukisan itu. sebelum aku menutup loker. Meihat lukisan dirinya, Dito hanya tersenyum dan menatapku. Sedangkan aku tersipu malu karena
ketahuan.
“besok istirahat bareng ya imah?” kata Dito.
“owh, iya” jawabku kaget.
Lalu dia pergi meninggalkan ku yang masih deg-degan
setengah mati.
Besoknya,
bel berbunyi waktunya istirahat. Aku keluar kelas dan ternyata Dito sudah
menunggu diluar. Aku dan dia pergi berjalan ke taman, sambil berkeliling aku
ngobrol dengannya. Sampai di tengah taman aku dan dia duduk dibawah rindangnya
pohon. Seketika suasana berubah menjadi canggung, tiba-tiba Dito berkata
kepada ku dengan ekspresi yang sangat serius hal itu sangat membuatku bingung
dan takut.
“ Imah, aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku??”
kata Dito hanya dalam waktu lima detik saja.
“hee???, kamu bercanda ya?” jawabku dengan sangat
kaget.
“aku serius” kata Dito.
“ah, emh, sebenarnya si aku juga suka sama kamu
“jawabku.
“beneran?” kata Dito sangat bahagia
Aku hanya mengangguk.
Kemudian
Aku dan Dito berpacaran. Setiap hari bareng, istirahat bareng, pulang bareng,
belajar kelompok bareng. Ya aku sangat senang karena akhirnya aku bisa bersama
dengan dia.
Tapi
hubungan ku dengan Dito tidak bertahan lama. Tepatnya lima bulan lima hari
lebih lima jam llima menit Dito mengajakku berjalan-jalan ketengah alun-alun
kota menikmati suasana sore. Setelah beberapa menit berlalu, Dito mengubah
ekspresinya menjadi sangat serius dan mengatakan sesuatu yang aku takuti.
“Imah mulai sekarang kita temenan aja.”kata Dito
lagi-lagi hanya dalam waktu lima detik.
“ apa? Kenapa?” jawabku.
“ iya, aku akan pergi. Aku harus ikut kedua orang
tuaku pindah ke Belanda.” Kata Dito dengan mata yang berkaca-kaca.
“kapan kamu berangkat kesana?” tanyaku sambil menahan
air mata dan mencoba untuk tegar.
“nanti pukul tujuh malam. Aku berharap semoga kamu
mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku. Tetap semangat. Ingat kalau
jalan hati-hati ya?” kata Dito sambil mengusap kepala ku dan perlahan dia
berjalan meninggalkan ku sendiri ditempat.
Seketika suasana terasa sangat
sepi, sunyi, hening, angin seperti berhenti berhembus. Aku tak tahan menahan
air mata yang sudah berkaca-kaca, dan akupun menangis seorang diri. Dan
akhirnya aku menjadi gadis SMA seperti dulu, yang tidak punya pacar atau
gebetan. Tapi ada satu hal yang tidak akan ku lupakan yaitu kenangan dimana
cinta datang kepadaku hanya dalam waktu lima detik dan juga berakhir dalam lima
detik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar